Membangun jembatan yang membelah selat
sunda hanya impian pada tahun 2004 lalu. Namun kini rencana pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) sudah mulai direncanakan meskipun banyak
masalah yang berasal dari aspek sosial, ekonomi, pendidikan bahkan politik.
"Ditakutkan ketika jembatan akan dibangun, putra daerah akan
meminta bagian. Dan akhirnya hanya akan menjadi supir, ataupun seorang pedagang. Kita tidak mau seperti itu, karena kita berharap hasil maksimal untuk
pembangunan ini,"
ungkap Direktur
Proyek JSS Agung R Prabowo.
Dari segi politik juga akan timbul kendala, karena ada kendala akan perjanjian internasional untuk meyakinkan bahwa jembatan ini sudah memenuhi standar
internasional. Untuk itu akan diadakan feasibility study (FS) selama kurang lebih 2-3 tahun.
Dalam laporan pra
studi kelayakan
diperkirakan proyek JSS ini akan menelan biaya sekitar USD10 juta. Namun ini adalah
angka sementara,
angka persis akan di dapat pada saat selesai FS.
Jembatan dengan
panjang hampir 30
kilometer (km) ini
ditargetkan selsai
dengan masa pembangunan 8-9
tahun, jembatan ini mengadopsi
jembatan yang menjadi benchmark Italia. Sedangkan jarak antar tiang diperkirakan selebar 2,2 km dengan enam ruas, tiga ruas di kiri dan tiga ruas di kanan.
Proyek JSS ini sedang menunggu payung hukum dari Menteri Perekonomian Hatta Rajasa, tahap awal proyek ini akan mulai digarap sebelum tahun 2014. Kepres
no.36 tentang
pembuatan Jembatan Selat
Sunda.
Di samping itu,
ketakutan akan
meletusnya Gunung Anak Krakatau seperti pada tahun 1883 masih membayangi, namun saat itu Gunung Krakatau berada 2.000 meter di atas
laut. Sedangkan
Gunung Anak krakatau hanya
200-300 meter, jadi bukan merupakan ancaman. Namun untuk mengantisipasinya, akan dibutuhkan
teknologi, untuk
merelease kekuatannya,
sehingga ketika dia meletus
kekuatannya sudah melemah. Selain itu juga ada faktor tumbukan lempeng, namun hal-hal ini merupakan sebuah tantangan, bukan
hambatan.
"Orang-orang hanya berfikir mikro, bahwa
ini cuma pembangunan
jembatan, padahal
Malaysia sendiri dulu ngotot membangun
jembatan Malaka-
Dumai, dengan
panjang 50 km, itu
kenapa? Karena
Malaysia berniat
untuk mengambil
ekonomi di Sumatera,"
Hambatan lain yaitu pemikiran bangsa kita. "Kita harus berfikir bagaimana kita membangun sambil memperbaiki jalan bolong-bolong,"
ungkapnya Beliau mengatakan tidak mungkin bisa mengandalkan tol,
pengembangan
kawasan diharapkan bisa menutup jalan
yang kualitasnya
kurang itu.
Sementara dia menegaskan jembatan itu sendiri dibangun bukan sebagai solusi kemcetant, ataupun
kesiapan menghadapi perdagangan bebas, tapi karena
kepentingan ekonomi. Aspek keamanan juga tampak menjadi
kendala. "Ini kan
proyek mahal, nanti kalau ada yang mencuri baut
gimana? selain itu
kendala kapal-kapal besar yang lewat masih menjadi perhatian.
Faktor
konservatif juga
akan menjadi
sorotan, karena itu dalam membuat diperkukan tekhnologi tinggi, yang juga di kaji pada FS nanti,"
jelas dia.
"Selain dari segi
ekonomi diharapkan (JSS) dapat menjadi salah satu kebanggaan terutama untuk
daerah Asia. Banyak yang bilang ini adalah
proyek mimpi, tapi
dari mimpi itu kita
bisa jadi bangsa yang besar. Jangan berkata mimpi itu buruk, mimpi tanpa
usaha itu yang
buruk," ungkap dia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar