Cari Blog Ini

Jumat, 19 November 2010

Identitas Pengarang Cerita Senjata Biologi Irak Terkuak

NEW YORK - Jaringan televisi Amerika Serikat (AS), CBS, mengaku berhasil
membongkar
identitas pengarang
cerita bohong
tentang senjata
biologi Irak yang
menjadi pembenar
invasi AS, 2003.

Laporan eksklusif
yang rencananya
ditayangkan di
program "60 Menit", Minggu (4/11) ini merupakan hasil
investigasi selama
dua tahun wartawan Bob Simon. CBS
menyatakan, cerita bohong itu kali pertama disebarkan
seorang pelarian Irak bernama Rafid Ahmed Alwan. Pria yang mengaku pakar biologi ini menceritakan kepada pemerintah Jerman bahwa Presiden Saddam Hussein saat itu tengah mengembangkan
senjata pemusnah
massal di sebuah
pabrik di Djerf al-
Nadaf, Irak. Alwan
yang pernah bekerja di pabrik itu mampu menceritakan detail semua aktivitas di
pabrik tersebut.

Alwan mengungsi ke Jerman pada 1999.
Agar mudah
mendapatkan suaka dari pemerintah
Jerman, dia
mengarang cerita
tentang adanya
senjata pemusnah
massal di pabrik Djerf al-Nadaf. Alwan juga
mengaku bahwa 12 pakar biologi Irak telah dibunuh oleh agen rahasia
Baghdad," tulis CBS.

Informasi yang
disampaikan Alwan ini oleh pemerintah
Jerman diteruskan
kepada badan
intelijen AS, CIA.
Namun, saat itu
Jerman mengaku
tidak punya bukti
autentik tentang
keberadaan senjata
biologi di Irak.
"Pemerintah Jerman hanya mengatakan
Alwan dapat
dipercaya. Namun,
tidak ada bukti yang membenarkan
ceritanya, "lanjut CBS, mengutip sebuah surat yang dikirim
pemerintah Jerman kepada CIA.
Untuk menguak
cerita lebih dalam,
CIA sempat
menginterogasi
Alwan. Selama
proses ini
berlangsung, Alwan menggunakan sandi Curve Ball.
Tidak
dijelaskan kapan
tepatnya peristiwa itu terjadi. Yang pasti, dari cerita Alwan, Departemen
Pertahanan AS yang kala itu dipimpin Colin
Powell melaporkan
kepada Persatuan
Bangsa-Bangsa (PBB) tentang senjata
pemusnah massal di Irak.
Padahal, sebelum
menyerang Irak, tim investigasi telah menyatakan bahwa tidak ditemukan
senjata biologi di
pabrik Djerf al-Nadaf. "Dia (Alwan) adalah
pilar utama
kecurigaan AS terkait adanya senjata pemusnah massal, di
Irak," terang CBS.
Hasil investigasi CBS juga
mengungkapkan,
Alwan bukanlah
seorang pakar biologi. Dia adalah mantan
mahasiswa biologi
yang selalu
mendapatkan nilai
jelek. Sebelum
meninggalkan Negeri 1001 Malam, Alwan
terlibat kasus
pencurian saat
bekerja di televisi
Babel, Baghdad.
Menurut informasi
sejumlah sumber,
saat ini Alwan masih berkeliaran di Jerman.

Guna menghindari hal-hal yang tidak
diinginkan, Alwan kini menggunakan
identitas baru. "Dia adalah seorang pria
yang ingin
mendapatkan kartu hijau (izin menetap) di Jerman. Dan dia
memainkan sistem
untuk tujuan itu,"
tulis CBS mengutip
pernyataan mantan
pejabat senior CIA
Tyler Drumheller.
Belum ada pernyataan resmi
dari pemerintah
Jerman maupun
Gedung Putih terkait temuan CBS.

Sebelumnya, melalui juru bicaranya,
mantan Kepala CIA
George Tenet
mengaku tidak
pernah melihat surat yang dikirim
pemerintah Jerman kepada institusi yang
dipimpinnya.
"Beliau (Tenet) tidak pernah melihat surat
dari pemerintah yang menyatakan bahwa Alwan adalah orang
yang dapat
dipercaya."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar