Cari Blog Ini

Jumat, 31 Desember 2010

Sepenggal Kisah Pram dan Blora

SASONO Lalit, sebuah
makam yang terletak
persis di samping
Taman Makam
Pahlawan Wira Bhakti,
Blora. Nama kompleks
pemakaman tersebut
tertera di bagian atas
gerbang yang terbuat
dari teralis dengan huruf
Jawa kuno
(Hanacaraka). Dahulu,
kompleks pemakaman
tersebut dikenal
sebagai makam para
priyayi Blora.
Kendati kompleks
pemakaman itu
digunakan untuk
pemakaman para
priyayi Blora, namun tak
semua yang
dimakamkan di situ
adalah priyayi. Di sana,
ada juga sembilan
makam yang dari
keluarga sederhana.
Sembilan makam itu
adalah Satimah serta
suaminya, yaitu Mbah
Kromo (putra), Mastoer
dan istrinya Siti Saidah
(Oemi Saidah), Kun
Maryatun, Susanti,
Busono, Jayusman, dan
Imam Barzah.
Mereka adalah keluarga
besar Pramoedya
Ananta Toer (Pram).
Mastoer adalah bapak
dari sastrawan
legendaris asal Blora,
sedangkan Siti Saidah
yang dikenal juga
dengan Oemi Saidah
merupakan Sang
Ibunda. Kun Maryatun
dan Susanti, keduanya
adik Pramoedya, sedang
Busono adalah
keponakan Pram dari
adiknya yang bernama
Oemi Syafaatun.
Jayusman merupakan
suami dari Kun
Maryatun, yang berarti
adik ipar penulis Bumi
Manusia, sedang Imam
Barzah adalah Mastoer
yang dulu pernah
menjadi kepala sekolah
di Sekolah Teknik (ST)
zaman dulu. Lalu, siapa
Satimah dan Mbah
Kromo?
Satimah barangkali tak
banyak yang tahu
tentang nama ini.
Namun, bagi pecinta
karya-karya Pramoedya
Ananta Toer, Satimah
bukanlah sosok yang
asing. Dialah Si Gadis
Pantai, yang
dimaksudkan Pram
dalam salah satu cerita
bersambungnya
dengan judul yang
sama, "Gadis Pantai".
"Gadis Pantai",
merupakan roman yang
dipersembahkan oleh
Pramoedya untuk nenek
kandungnya, yang
berasal dari sebuah
kampung nelayan di
Rembang, Jawa Tengah.
Neneknya menikah
dengan salah seorang
penghulu di Rembang
bernama H Ibrahim.
Namun, hanya sebagai
istri ampil dan dipaksa
meninggalkan rumah
Sang Suami, tak lama
setelah melahirkan
anaknya.
Soesilo Toer, salah satu
adik Pram menuturkan,
neneknya tersebut
adalah seorang
perempuan cantik,
berkulit kuning langsat,
kulitnya juga lembut,
dan bola matanya
berwarna biru. "Saya
masih ingat sama
nenek saya. Beliau orang
yang sangat gemati dan
sayang sama cucunya,"
katanya kepada Suara
Merdeka CyberNews,
Kamis (30/12).
Tak Disengaja
Sewaktu diminta
meninggalkan rumah
suaminya, Sang Nenek
tidak lantas pergi begitu
saja, karena kasihan
dan sangat sayangnya
kepada Si Buah Hati.
"Ceritanya waktu itu
nenek atau Gadis Pantai
itu selalu berkeliling
secara diam-diam,
untuk mencari tahu
kondisi anaknya. Namun
karena dari hari ke hari
ia juga membutuhkan
hidup, akhirnya pergi
mencari pekerjaan
berkelana dari kota ke
kota. Ia juga butuh
makan," terangnya.
Dalam perantauannya,
Gadis Pantai sampai di
Surabaya untuk bekerja.
Di Surabaya itu juga, dia
bertemu dengan
seorang lelaki yang
dikenal dengan Mbah
Kromo, dan kemudian
mengajaknya menikah.
Mulanya Satimah, Si
Gadis Pantai itu
menolak. Namun, Kromo
mengancam, hingga
akhirnya Satimah pun
tidak mampu menolak
ajakannya untuk
menikah.
Kromo dan Satimah
kemudian menikah.
Setelah pernikahan,
Satimah diboyong ke
Blora dan menetap di
Kunden. "Perkawinan
dengan Mbah Kromo,
Satimah dikarunia anak
bernama Satari," jelas
Soesilo Toer.
Di Blora, Satimah yang
kemudian dikenal pula
dengan Mbah Kromo
(putri) bekerja berjualan
barang-barang bekas.
Namun, dari profesinya
tersebut lah, akhirnya
Gadis Pantai ini
menemukan
kebahagiaan yang luar
biasa. Di kota inilah, ia
bertemu dengan
anaknya, yaitu Siti
Saidah atau Oemi
Saidah, yang kelak
menjadi ibu dari
Pramoedya Ananta
Toer dan adik adiknya,
dari pernikahannya
dengan Mastoer.
Pertemuan Gadis Pantai
dengan ibu Oemi Saidah
tidaklah disengaja.
"Suatu hari Gadis Pantai
mendengar ada priyayi
yang bangkrut. Ia
mencoba
mendatanginya,
barangkali ada yang bisa
dibeli untuk dijual
kembali. Namun tak
disangka, si tuan
rumah itu adalah
putrinya sendiri, yang
terpaksa
ditinggalkannya karena
ia diusir suaminya yang
berniat menikah lagi
dengan seorang gadis
dari Demak," ujar
Soesilo Toer yang juga
sudah menulis sejak
kecil.
Gadis Pantai. Dia
tidaklah sekadar kisah
dalam roman Pram yang
kisahnya melegenda
dan banyak dibaca oleh
pecinta sastra dari
banyak negara di dunia.
Tetapi ia sekaligus
nenek dari Pramoedya
dan adik-adiknya. Oemi
Saidah, putri Gadis
Pantai, adalah ibu
Pramoedya dan adik-
adiknya.
Oemi Saidah menikah
dengan Mastoer, sosok
yang cukup dikenal
jasanya di dunia
pendidikan. Ia adalah
kepala sekolah di
sekolah Boedi Oetomo
(BO) di Blora yang
didirikan langsung oleh
Dr Soetomo pada 1917,
yang sebelumnya
sempat mengajar di
Rembang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar