Cari Blog Ini

Minggu, 26 Desember 2010

Wanita Bertato dan Segala Kontroversinya

TATO bagai suvenir
seumur hidup yang
dilukiskan pada raga.
Tak lagi didominasi
kaum pria, makhluk
wanita dengan segala
keanggunannya pun
berlomba-lomba
menyematkan simbol-
simbol indah itu di tubuh
mereka. Seakan tak lagi
peduli pandangan
masyarakat yang belum
terbiasa "open minded"
karena masih terikat
erat dengan adat
ketimuran. Sebuah
pemikiran picik, sempit,
dan maha dangkal,
ketika melihat bahwa
semua yang terlihat
nganeh-anehi, seperti
halnya wanita bertato
selalu diidentikkan
dengan perangai
negatif.
Bahkan muncul pula
pendapat awam yang
dijadikan guyonan antar
kawan saat santai,
"Perempuan tidak
bertato itu bebas
masuk surga, sedang
perempuan bertato
bebas kemana saja,
keluyuran rumah tengah
malam, dan merokok"
Pro dan kontra di
masyarakat tentang
tato rupanya telah
melahirkan pula
pandangan moderat
sebagian wanita yang
menyikapi tato dengan
alasan beragam. Ada
kecenderungan mereka
(para wanita)
mengingininya seperti
sebuah candu, tapi tak
berani karena takut
ketagihan. Seperti
diungkap simbok Venus,
blogger dari Jakarta
ketika dimintai
pendapatnya tentang
perempuan dan tato,
"aku juga ingin (tato,
red), tapi nggak berani..".
Lain lagi pendapat
Ratna. Pekerja wanita
dengan satu putra ini
justru menyikapi tren
tato dengan
pemikirannya yang lebih
maju, "Tato. Nggak ada
yang salah dengan tato.
Sama saja dengan
karya seni lain, ada
media, ada seniman,
ada pelaku dan ada
penikmatnya. Begitu
juga dengan segala
bentuk kontroversi, pro
dan kontra yang
menyertainya. Tato itu
suatu bentuk karya seni
yang usianya sama
dengan peradaban
manusia di bumi. Hanya
saja aku lebih memilih
temporary tattoo saja.
Biar bisa ganti-ganti.."
Ya, bagai sebuah tren
mode, seni tato dilirik
sebagian kaum hawa
karena dinilai menjadi
media yang tepat untuk
mengekspresikan diri,
mengungkapkan rasa,
serta bentuk
penghargaan terhadap
karya seni tinggi.
Angkat jempol tinggi
bagi para wanita yang
bersedia melalui rasa
sakit dirajah jarum
suntik dan merelakan
tubuh mulusnya dilukis
bak kanvas dengan
tinta warna-warni.
Tersematkanlah tubuh
itu dengan simbol penuh
makna, quote favorit
bahkan replika foto.
Inilah bukti bahwa
fungsi tato sudahlah
bergeser, tak lagi
difungsikan sekedar
sebagai penanda
pencapaian fase-fase
terpenting dalam
kehidupan perempuan-
perempuan suku saat
mereka mencapai
pubertas, menikah dan
memutuskan memiliki
anak, namun telah pula
menjadi bagian dari
nafas fashion dan tren
gaya hidup.
Presenter kondang,
Tamara Geraldine salah
satu contohnya. Dengan
segala keberaniannya,
Tamara merajahi
tubuhnya dengan tato
berwujud foto Caskaya,
putri angkatnya. Sebuah
kebanggaan bagi
Tamara memamerkan
replika foto buah
hatinya yang terlukis di
punggung mulusnya
pada setiap
kesempatan.
Tato higienis
Wanita berdarah Batak
itu mengaku mulai 'gila'
merajai tubuhnya sejak
beberapa tahun lalu.
Entah atas
pertimbangan apa,
Tamara berani
berhadapan dengan
jarum suntik, melalui
rasa sakitnya ketika
kulitnya dihujam jarum-
jarum menyakitkan
yang mungkin setimpal
nyerinya dengan nyeri
yang dialami sebagian
wanita yang lebih
memilih operasi
liposuction. Ya, but the
present is in your
hands, dude!
"Buatku, tato mesti
higienis. Waktu aku bikin
tattoo wajah putriku di
punggung, seniman
tato-nya datang
langsung dari Bali ke
Jakarta. Aku sudah
kenal dengannya dan dia
bersih. Aku enggak mau
seniman tato yang
jorok, seperti bikin tato
sambil merokok,"
ungkapnya.
Memang betul, tato tak
hanya menyoal seni
artistiknya yang tinggi,
sebagai penanda
momen penting dalam
kehidupan, atau sebagai
handicap menuju
keterkenalan mereka,
para pesohor. Namun
dibalik itu semua,
penting perlunya
mempertimbangkan
banyak hal sebelum
merajahi tubuh. Mencari
tahu kebersihan dan
kredibilitas tempat
desain tato adalah
sebuah langkah bijak
jika kita tidak ingin ada
efek samping dari tato
yang kita sematkan.
Menghapus tato =
menghapus masa
lalu?
Tak dipungkiri, kembali
lagi pada prinsip masing-
masing pribadi untuk
memutuskan
'menandai' tubuhnya.
Tak ada guna sekedar
ikut tren jika hanya
untuk kesenangan
sesaat dan lalu
menyesal memiliki
'tanda' itu. Akan jadi
sebuah keterpurukan
jiwa saja. Kelly Osborne
memberi wejangannya
pada anak-anak muda
saat interview-nya
dengan Access
Hollywood. "Jangan
pernah ber-tato, karena
kamu akan menyesal
setelah tua nanti. Aku
membencinya"
Bahkan jadi sebuah
masalah, ketika tato
bergambar lumba-lumba
di pinggul Luna Maya
menjadi bukti kuat
video asusilanya
bersama Ariel Peterpan
terkuak di publik.
Sebuah sumber
membenarkan, Luna
Maya memilih
menghapus tato itu dari
tubuhnya pada seorang
dokter di Singapura
untuk menghilangkan
bukti.
Ya, dalam urusan
membuang tato,
perempuan memang
lebih sering
melakukannya. Hal ini
dikuatkan dengan
sebuah studi yang
pernah dilakukan di
tahun 1996 di empat
klinik dermatologi dari
negara bagian Arizona,
Colorado,
Massachusetts dan
Texas.
Riset yang dipimpin Dr
Myrna L Armstrong dari
Texas Tech University
itu mewawancarai 196
orang bertato yang
datang ke klinik, 130 di
antaranya perempuan
dan 66 pria. Yang
mengejutkan, terdata
lebih banyak wanita
(69%) daripada pria
(31%) yang datang
membuang tato.
Terkumpul alasan dari
sebagian mereka yang
memilih menghapus
tato karena alasan
stigma sosial, yakni
malu, kesan rendah diri,
pekerjaan baru, dan
masalah dengan
pakaian.
Atas dasar rasa cinta
dan keinginan menandai
momen spesial
bersama sang
pasangan jiwa, rupanya
menjadi alasan sebagian
wanita tanpa pikir
panjang rela menandai
tubuhnya. Inilah, yang
bgai mereka menjadi
sebuah pembuktian
atas cinta yang begitu
kuat mengakar di dalam
hati. Sayang, ketika
gairah itu memudar dan
mati, 'tanda' itu pun tak
lagi memiliki maknanya.
Membuangnya dari
tubuh adalah pilihan
terbaik.
Hal ini dialami Eva
Longoria yang rela
merajah nama
suaminya, Tony Parker,
di bagian intim
tubuhnya. Kenyataan
pahit, pernikahan itu
kandas. Mau diapakan
tanda itu, tetap
dikenang? jika tak ada
lagi rasa yang tersemat
di sana, untuk apa
tanda itu masih
terpahat?. Hapus,
hilangkan dan buang
jauh-jauh memang
menjadi cara yang
tepat. Namun, rasa
sakit 'mencabut' tanda
itu dari tubuh tak akan
seberapa dibanding
dengan perihnya
melupakan kenangan
sang mantan suami,
bukan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar