Cari Blog Ini

Sabtu, 20 November 2010

Imunisasi, Tameng Penyakit Anak

KOMPAS.com —
Pencegahan adalah
kunci untuk memiliki
kesehatan yang baik.
Bahkan, mencegah
lebih baik daripada
mengobati. Salah satu
cara terbaik untuk
melindungi anak-anak
dan keluarga dari
penyakit adalah dengan
imunisasi.
Imunisasi pada
dasarnya bertujuan
untuk menstimulasi
reaksi kekebalan tubuh
tanpa menimbulkan
penyakit. Beberapa
penyakit infeksi seperti
campak, tetanus, polio,
atau hepatitis bisa
dicegah dengan
imunisasi. Meski tidak
semua penyakit infeksi
tersebut mengancam
jiwa, beberapa penyakit
bisa menyebabkan
kecacatan.
Teknik pemberian
imunisasi pada
umumnya dilakukan
dengan melemahkan
virus atau bakteri
penyebab penyakit lalu
diberikan kepada
seseorang dengan cara
disuntik atau ditelan.
Setelah bibit penyakit
itu masuk ke dalam
tubuh, maka tubuh
akan terangsang untuk
melawan penyakit itu
dengan membentuk
antibodi. Selanjutnya,
antibodi itu akan terus
ada di dalam tubuh
orang yang telah
diimunisasi untuk
kemudian melawan
penyakit yang
mencoba menyerang.
Sejak pemakaiannya
meluas pada abad
ke-20, imunisasi telah
mencegah jutaan
kematian di dunia.
Kendati begitu, masih
saja banyak orang
yang tidak mau
diimunisasi. Salah satu
penyebabnya adalah
kekhawatiran terhadap
keamanan dan efek
samping dari vaksin.
Menurut Prof dr IGN
Gde Ranuh, SpA (K),
kekhawatiran terhadap
keamanan vaksin itu
timbul akibat informasi
yang salah.
"Masyarakat sering kali
lebih khawatir terhadap
efek samping vaksin,
seperti demam atau
pegal-pegal, daripada
penyakitnya. Padahal,
komplikasi penyakit
bisa menyebabkan
kecacatan, bahkan
kematian," paparnya
dalam acara jumpa
media di sela-sela acara
Simposium Nasional
Imunisasi ke-2 yang
diadakan oleh Ikatan
Dokter Anak Indonesia
(IDAI) di Jakarta Jumat
(19/11/2010).
Efek samping imunisasi
dapat disebabkan oleh
faktor penyimpanan
yang kurang
memerhatikan sistem
rantai dingin (cold
chain) dan cara
penyuntikan. "Di dalam
vaksin juga terdapat
bahan tambahan untuk
mencegah kontaminasi
dan mempertinggi
respons kekebalan.
Oleh karena itu, vaksin
harus disuntikkan ke
dalam otot agar tidak
menimbulkan
bengkak," kata Prof Dr
Sri Rezeki Hadinegoro,
SpA (K), Ketua Satgas
Imunisasi IDAI, dalam
kesempatan yang
sama.
Mengenai demam
ringan yang timbul
setelah imunisasi,
menurut Sri hal itu
adalah reaksi yang
normal sebagai bagian
reaksi tubuh ketika
membentuk kekebalan.
Hal ini pun bersifat
individual.
Beberapa jenis penyakit
memang berhasil
dieradikasi berkat
imunisasi, seperti cacar
atau polio. Meski
demikian, menurut Sri,
imunisasi masih tetap
diperlukan. Meski
penyakitnya sudah
lenyap, kuman yang
menimbulkan penyakit
masih tetap ada dan
bisa menyerang
mereka yang tidak
dilindungi dengan
vaksinasi.
"Ancaman penyakit ada
terus-menerus. Apalagi
sekarang ini dunia
sudah tanpa batas,
setiap orang bisa
bepergian ke mana
pun. Hal ini bisa
menyebabkan
terjadinya kontak
dengan orang lain yang
tanpa sadar membawa
suatu penyakit,"
katanya.
Yang harus dicermati
adalah imunisasi tidak
menjamin seseorang
akan terbebas 100
persen dari penyakit.
Saat ini imunisasi yang
diberikan berhasil
merangsang tubuh
membentuk antibodi
hingga 99 persen.
Karena itu, andaipun
anak masih terkena
penyakit, maka
penyakitnya akan lebih
ringan dan tidak
membahayakan
nyawanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar