London - Mobil ski yang
mirip serangga ini adalah
persilangan antara
pesawat udara dan
kereta luncur. Bukannya
roda, di ujung kedua
lengan yang mencuat di
kiri dan kanan
kendaraan es, serta
satu di bagian depan
mobil, terdapat
semacam papan ski.
Kendaraan es itu,
Winston Wong Bio-
Inspired Ice Vehicle
(BIV), akan memimpin
ekspedisi tim Imperial
College London, Inggris,
dalam upaya
pemecahan rekor
tercepat melintasi
Antartika. Jika berhasil,
ini akan menjadi
ekspedisi pertama yang
menyeberangi kontinen
paling selatan bumi itu
dalam dua arah.
Ekspedisi Trans-
Antartika Moon Regan
itu akan menempuh
perjalanan 5.790
kilometer, berangkat
dari Patriot Hills di
pesisir barat Antartika
menuju ke Kutub
Selatan sebelum
mengarah ke utara
melalui barisan
pegunungan Trans-
Antartika menuju
bentang es Ross dan
McMurdo Sound. Tiga
hari kemudian, mereka
akan melakukan napak
tilas perjalanan ke
Patriot Hills.
Kendaraan es BIV, yang
dilengkapi radar untuk
mendeteksi retakan
lapisan es, akan
membuka jalan bagi tim
tersebut. Selain mobil es
berbahan bakar hayati
itu, para ilmuwan
membawa dua
laboratorium bergerak di
atas mobil 6 WD yang
dilengkapi sensor gerak
nirkabel. Dua kendaraan
pendukung sains (SSV)
ini adalah Ford
Econolines, yang disulap
menjadi laboratorium
bergerak sekaligus
pengangkut tim dan
perlengkapan lainnya.
Dalam ekspedisi misi ini,
tim ilmuwan Imperial
College, yang
berkolaborasi dengan
tim Moon Regan Trans-
Antarctic, memang tak
hanya berusaha
mencatatkan rekor
baru, tapi juga
melakukan riset dan
menguji peralatan baru
yang dirancang untuk
mengurangi dampak
lingkungan misi manusia
ke Kutub Selatan serta
mengumpulkan data di
sejumlah daerah riset.
Jaringan sensor gerak
nirkabel yang
dikembangkan oleh
ilmuwan Imperial akan
digunakan untuk
memantau lingkungan,
kendaraan, dan 11
anggota tim ekspedisi
selama penjelajahan.
"Ekspedisi ini
menawarkan
kesempatan langka bagi
kami untuk mengukur,
memantau, dan
mempelajari salah satu
alam liar terbesar di
dunia dan
mengumpulkan data
riset," kata Robin North,
ilmuwan dari Center for
Transport Studies di
Imperial College, London.
Salah satu perangkat
baru yang akan diuji
adalah alat pemonitor
kesehatan, Life
Platforms. Setiap
anggota ekspedisi harus
mengenakan alat ini
untuk memantau sinyal
vital, seperti elektro-
kardiogram (ECG),
denyut jantung, serta
pergerakan dan
aktivitas otot.
Teknologi yang
dikembangkan oleh
ilmuwan dari Winston
Wong Center for Bio-
Inspired Technology di
Institute of Biomedical
Engineering, Imperial
College, itu sangat
ringkas. Orang tak lagi
direpotkan dengan
pemasangan kabel-
kabel yang dihubungkan
pada mesin besar untuk
memantau
kesehatannya.
Ilmuwan dari Center for
Transport Studies di
perguruan tinggi
tersebut juga terlibat
dalam uji coba sensor
polusi kendaraan baru,
yang akan terpasang
pada SSV untuk
menghitung dampak
lingkungannya. Sejumlah
sensor akan
menghitung beragam
tipe polutan yang
dilepas kendaraan itu,
sedangkan sensor lain
akan menaksir
performa mesin,
termasuk konsumsi
bahan bakar dan daya
tahan kendaraan.
"Kami akan mengetes
efektivitas sistem
navigasi satelit global,
melacak dampak
kehadiran kami bagi
lingkungan Antartika,
dan terus-menerus
memonitor respons
tubuh kami terhadap
kondisi ekstrem," kata
North.
Selama ekspedisi,
jaringan sensor nirkabel
akan merekam dan
mengirimkan data
secara kontinu ke
sebuah komputer yang
disimpan dalam salah
satu SSV. Para ilmuwan
dan petualang dapat
mengakses informasi
tentang ekspedisi itu
secara real time.
Komputer itu akan
dihubungkan ke sebuah
telepon satelit,
sehingga informasi dari
sensor akan
dipancarkan kembali ke
Inggris untuk analisis
lanjutan.
Para ilmuwan berencana
mengumpulkan berbagai
data, mulai meteorit,
yang menyimpan
rahasia asal-muasal
tata surya kita, hingga
permukaan salju untuk
menguji polutan yang
terbawa dari seluruh
penjuru dunia. Sasaran
lain adalah radiasi surya
untuk menambah
wawasan tentang
sistem iklim dunia dan
turbulensi angin, yang
dapat meningkatkan
desain kendaraan serta
perjalanan udara.
Salah satu target
utama ekspedisi ini
adalah mengetes
viabilitas dan dampak
lingkungan SSV untuk
menciptakan kendaraan
dengan jejak karbon
rendah yang ramah bagi
alam. Tim itu juga ingin
mengetahui efektivitas
bahan bakar hayati
dalam kondisi
temperatur di bawah
nol derajat, serta
performa alat
pengontrol emisi dan
fisiologi manusia dalam
kondisi yang amat
keras itu.
Ekspedisi itu
diperkirakan dapat
dituntaskan dalam
waktu 40 hari.
Rombongan yang kini
telah siap di Punta
Arenas, Cile, tinggal
menunggu kondisi cuaca
membaik sehingga
dapat mendarat di
pesisir barat Antartika.
Mereka akan memulai
perjalanan dari Patriot
Hills pada akhir
November. Setelah
sampai di Kutub
Selatan, mereka akan
menuju stasiun riset
McMurdo di pesisir timur
kontinen itu dan tiba
dalam dua pekan.
Mereka akan kembali
menuju Patriot Hills
dengan rute yang sama
dan diperkirakan
kembali sekitar akhir
Desember.
"Antartika adalah
lingkungan yang keras,
dengan temperatur
terendah di bumi.
Datarannya tak mudah
dilalui, dengan retakan
dan sastrugi--lembah
atau bukit salju keras
dan tajam yang
terbentuk oleh erosi
angin--tak terduga,"
kata Andrew Regan,
kepala ekspedisi. "Ini
adalah peluang langka
untuk 'mencicipi' benua
luar biasa tersebut,"
ujarnya. "Dunia dapat
belajar banyak dari
Antartika."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar