Cari Blog Ini

Minggu, 26 Desember 2010

Keris Mpu Gandring

Keris Mpu Gandring
adalah senjata pusaka
yang terkenal dalam
riwayat berdirinya
Kerajaan Singhasari di
daerah Malang, Jawa
Timur sekarang. Keris ini
terkenal karena
kutukannya yang
memakan korban dari
kalangan elit Singasari
termasuk pendiri dan
pemakainya, ken Arok.
Keris ini dibuat oleh
seorang pandai besi
yang dikenal sangat
sakti yang bernama
Mpu Gandring, atas
pesanan Ken Arok,
salah seorang tokoh
penyamun yang
menurut seorang
brahmana bernama
Lohgawe adalah titisan
wisnu. Ken Arok
memesan keris ini
kepada Mpu Gandring
dengan waktu satu
malam saja, yang
merupakan pekerjaan
hampir mustahil
dilakukan oleh para
"mpu" (gelar bagi
seorang pandai logam
yang sangat sakti) pada
masa itu. Namun Mpu
Gandring
menyanggupinya
dengan kekuatan gaib
yang dimilikinya. Bahkan
kekuatan tadi
"ditransfer" kedalam
keris buatannya itu
untuk menambah
kemampuan dan
kesaktian keris
tersebut.
Setelah selesai menjadi
keris dengan bentuk
dan wujud yang
sempurna bahkan
memiliki kemampuan
supranatural yang
konon dikatakan
melebihi keris pusaka
masa itu. Mpu Gandring
menyelesaikan
pekerjaannya membuat
sarung keris tersebut.
Namun belum lagi
sarung tersebut selesai
dibuat, Ken Arok datang
mengambil keris
tersebut yang
menurutnya sudah satu
hari dan haris diambil.
Kemudian Ken Arok
menguji Keris tersebut
dan terakhir Keris
tersebut ditusukkannya
pada Mpu Gandring yang
konon menurutnya
tidak menepati janji
(karena sarung keris itu
belum selesai dibuat)
selebihnya bahkan
dikatakan untuk
menguji kemampuan
keris tersebut melawan
kekuatan supranatural
si pembuat keris (yang
justru disimpan dalam
keris itu untuk
menambah
kemampuannya). Dalam
keadaan sekarat, Mpu
Gandring mengeluarkan
kutukan bahwa Keris
tersebut akan meminta
korban nyawa tujuh
turunan dari Ken Arok.
Dalam perjalanannya,
keris ini terlibat dalam
perselisihan dan
pembunuhan elit
kerajaan Singhasari
yakni :
Terbunuhnya Tunggul
Ametung
Tunggul Ametung,
kepala daerah Tumapel
(cikal bakal Singhasari)
yang saat itu adalah
bawahan dari Kerajaan
Kadiri yang saat itu
diperintah oleh
Kertajaya yang bergelar
"Dandang Gendis" (raja
terakhir kerajaan ini).
Tumapel sendiri adalah
pecahan dari sebuah
kerajaan besar yang
dulunya adalah Kerajaan
Jenggala yang
dihancurkan Kadiri,
dimana kedua-duanya
awalnya adalah satu
wilayah yang dipimpin
oleh Airlangga.
Ken Arok membunuh
Tunggul Ametung
untuk mendapatkan
istrinya yang cantik, Ken
Dedes. Ken Arok sendiri
saat itu adalah pegawai
kepercayaan dari
Tunggul Ametung yang
sangat dipercaya. Latar
belakang pembunuhan
ini adalah karena Ken
Arok mendengar dari
Brahmana Lohgawe
bahwa "barang siapa
yang memperistri Ken
Dedes akan menjadi
Raja Dunia".
Sebelum Ken Arok
membunuh Tunggul
Ametung, keris ini
dipinjamkan kepada
rekan kerjanya, yang
bernama Kebo Ijo yang
tertarik dengan keris itu
dan selalu dibawa-
bawanya kemana mana
untuk menarik
perhatian umum. Bagi
Ken Arok sendiri,
peminjaman keris itu
adalah sebagai siasat
agar nanti yang dituduh
oleh publik Tumapel
adalah Kebo Ijo dalam
kasus pembunuhan
yang dirancang sendiri
oleh Ken Arok.
Siasatnya berhasil dan
hampir seluruh publik
Tumapel termasuk
beberapa pejabat
percaya bahwa Kebo Ijo
adalah tersangka
pembunuhan Tunggul
Ametung. Ken Arok
yang saat itu adalah
orang kepercayaan
Tunggul Ametung
langsung membunuh
Kebo Ijo yang konon,
dengan keris pusaka itu.
Terbunuhnya Ken Arok
Setelah membunuh
Tunggul Ametung, Ken
Arok mengambil
jabatannya,
memperistri Ken Dedes
yang saat itu sedang
mengandung dan
memperluas pengaruh
Tumapel sehingga
akhirnya mampu
menghancurkan
Kerajaan Kediri. Ken
Arok sendiri akhirnya
mendirikan kerajaan
Singhasari.
Rupanya kasus
pembunuhan ini tercium
oleh Anusapati, anak
Ken Dedes dengan ayah
Tunggul Ametung.
Anusapati, yang
diangkat anak oleh Ken
Arok mengetahui
semua kejadian itu dari
ibunya, Ken Dedes dan
bertekat untuk
menuntut balas.
Anusapati akhirnya
merancang pembalasan
pembunuhan itu dengan
menyuruh seorang
pendekar sakti
kepercayaannya, Ki
Pengalasan.
Pada saat menyendiri di
kamar pusaka kerajaan,
Ken Arok mengamati
pusaka kerajaan yang
dimilikinya. Salah satu
pusaka yang dimilikinya
adalah keris tanpa
sarung buatan Mpu
Gandring yang dikenal
sebagai Keris Mpu
Gandring. Melihat
ceceran darah pada
keris tersebut, ia
merasa ketakutan
terlebih lebih terdengar
suara ghaib dari dalam
keris tersebut yang
meminta tumbal. Ia
ingat kutukan Mpu
Gandring yang
dibunuhnya, dan serta
merta mebantingnya ke
tanah sampai hancur
berkeping-keping. Ia
bermaksud
memusnahkannya.
Namun ternyata keris
tersebut melayang dan
menghilang. Sementara
Anusapati dan Ki
Pengalasan merancang
pembunuhan tersebut,
tiba-tiba keris tersebut
berada di tangan
Anusapati. Anusapati
menyerahkan keris
kepada Ki Pengalasan
yang menurut bahasa
sekarang, bertugas
sebagai "eksekutor"
terhadap Ken Arok.
Tugas itu
dilaksanakannya, dan
untuk menghilangkan
jejak, Anusapati
membunuh Ki
Pengalasan dengan
keris itu.
Terbunuhnya Anusapati
Anusapati mengambil
alih pemerintahan Ken
Arok, namun tidak lama.
Karena Tohjaya, Putra
Ken Arok dari Ken
Umang akhirnya
mengetahui kasus
pembunuhan itu. Dan
Tohjaya pun menuntut
balas.
Tohjaya mengadakan
acara Sabung Ayam
kerajaan yang sangat
digemari Anusapati.
Ketika Anusapati
lengah, Tohjaya
mengambil keris Mpu
Gandring tersebut dan
langsung membunuhnya
di tempat. Tohjaya
membunuhnya
berdasarkan hukuman
dimana Anusapati
diyakini membunuh Ken
Arok. Setelah
membunuh Anusapati,
Tohjaya mengangkat
dirinya sebagai raja
menggantikan
Anusapati.
Tohjaya sendiri tidak
lama memerintah.
Muncul berbagai ketidak
puasan baik dikalangan
rakyat dan bahkan
kalangan elit istana
yang merupakan
keluarganya dan
saudaranya sendiri,
diantaranya Mahisa
Campaka dan Dyah
Lembu Tal.
Ketidakpuasan dan
intrik istana ini akhirnya
berkobar menjadi
peperangan yang
menyebabkan
tewasnya Tohjaya.
Setelah keadaan
berhasil dikuasai, tahta
kerajaan akhirnya
dilanjutkan oleh
Ranggawuni yang
memerintah cukup lama
dan dikatakan adalah
masa damai kerajaan
Singashari. Sejak
terbunuhnya Tohjaya,
Keris Mpu Gandring
hilang tidak diketahui
rimbanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar