“KEMATIAN membela
kebenaran lebih
terhormat daripada
hanyut dalam jaringan
mafia “. Inilah ungkapan
Susno Duadji ketika
rapat dengar pendapat
dengan Komisi III DPR RI
pada awal April 2010.
Kalimat itu diucapkan
Susno untuk
membuktikan bahwa
pembongkaran jaringan
mafia yang sedang dia
lakukan merupakan
tanggung jawab
profetiknya sebagai
seorang perwira
kepolisian. Susno tidak
rela jaringan mafia
justru mengebiri negara
dengan menilap harta
negara secara brutal.
Susno berani angkat
suara sekeras-
kerasnya, bahkan
kalaupun kematian akan
menjemputnya dalam
perjuangan ini, ia akan
bangga dengan
kematiannya. Daripada
meninggalkan harta
hasil korupsi, bagi
Susno, lebih baik
meninggalkan jejak
perjuangan membela
kebenaran kepada anak
cucu.
Spirit perjuangan sang
jenderal inilah yang
menjadikan dia akhir-
akhir ini menjadi
manusia paling ternama
dalam bebarapa bulan
terakhir ini.
Keberaniannya semakin
teguh terlebih dengan
makin banyaknya
jaringan mafia negara
yang banyak terseret di
meja hijau. Susno
bahkan tak segansegan
membongkar jaringan
mafia kelas kakap yang
melibatkan kaum elite
kekuasaan, dan jaringan
petinggi di kepolisian.
Keberanian ini, terbukti,
dengan banyaknya
mafia di dinas
perpajakan yang telah
menilap miliaran uang
negara. Mulai dari Gayus,
Bahasyim, Andi Kokasih,
sampai Sjaril Djohan
yang masih hangat
sekarang ini.
Lupa
Semua itu dilakukan
demi membela
kebenaran di tengah
kekuasaan yang lupa.
Karena kaum petinggi
negara banyak lupa
karena terjerat jaringan
mafia, tak salah kalau
petinggi negara, bahkan
instansi kepolisian
sendiri banyak yang lupa
dengan kebenaran yang
menjadi tugasnya. Dan
karena lupa, akhirnya
Susno sendiri juga
diuduh dengan beragam
kasus.
Karena itulah Susno
membela dan
membongkar jaringan
mafia yang mengitari
lembaganya sendiri.
Dalam konteks
semacam itulah buku ini
hadir untuk memberikan
klarifikasi dan
penjelasan yang
proporsional ihwal arah
perjuangan yang akan
dijalankan Susno dalam
membela keadilan di
Negeri Makelar Kasus ini.
Kesan awal atas buku
ini seolah merupakan
pembelaan Susno atas
tuduhan yang telah
dialamatkan kepadanya.
Seperti tuduhan
menerima suap Rp 10
miliar rupiah dari
pengusaha Budi
Sampoerna dalam
kasus Bank Century,
rekayasa skandal Cicak
vs Buaya, sampai sakit
hatinya dicopot dari
kursi Kabareskrim
Mabes Polri.
Karena tuduhan suap
itulah Susno akhirnya
diduga banyak terlibat
dalam berbagai jaringan
mafia. Susno dijebak
untuk menjadi “kambing
hitam“ dalam berbagai
kasus, khususnya
dalam masalah Bank
Century. Karena
tuduhan yang
menggelinding itu terus
menguat, akhirnya
Susno dicopot dari kursi
Kabareskrim Mabes
Polri. Akan tetapi lepas
dari jabatan
Kabareskrim Mabes Polri
justru membuat Susno
semakin “bebas“ dan
“leluasan“ untuk
menyuarakan
kebenaran.
Karena dicopot dari
jabatan, maka hal itu
dijadikan Susno sebagai
momentum tepat
membongkar jaringan
mafia yang mengakar
kuat dalam tubuh
instansi negara.
Keberanian yang terus
membara inilah yang
menjadikan buku ini
bukanlah sebuah
“pembelaan“ atas
pencopotan Susno dari
Kabareskrim Mabes
Polri, tetapi justru
menjadi starting point
dia dalam
memperjuangkan
kebenaran yang diyakini.
Bagi Susno, dalam
memperjuangkan
pemberantasan korupsi,
yang harus dibersihkan
terlebih dulu adalah
aparat hukum itu
sendiri.
Susno bertanya, jika
aparat hukum yang
korup. bagaimana kita,
sebagai aparat hukum,
bisa memberantas
korupsi kalau kitanya
sendiri korupsi? Karena
itu, sebagai tahap awal,
dia “bersihkan“ dulu di
dalam, baru setelah itu
membersihkan yang di
luar. Bagaimana mau
menangkap bupati,
direktur, dan lain-lain
kalau di dalamnya belum
bersih dari korupsi. Kalau
aparatnya korupsi,
tamatlah republik ini.
Keberanian Susno
semacam ini sudah dia
buktikan ketika
menjabat sebagai
Kepala Polisi Daerah
(Kapolda) Jawa Barat
pada 2008.
Saat menjabat Kapolda
Jabar, Susno dengan
lantang selalu
menyuarakan agenda
pemberantasan korupsi.
Bahkan dia sendiri
menjadi panglima
pemberantasan korupsi.
Dan Susno berkali-kali
mengatakan,
menjalankan agenda
pemberantasan korupsi
sebaiknya dimulai dari
keluarganya sendiri.
Karena keluarga sudah
terbukti tidak korupsi,
barulah Susno kemudian
membersihkan
bawahan-bawahannya.
Bagi Susno, kalau mau
menjadi panglima
pemberantasan korupsi,
mulailah dari diri sendiri
dan keluarga. Karena
tidak mungkin seorang
pejabat mau melakukan
agenda pemberantasan
korupsi, sementara
dirinya sendiri dan
keluarganya ternyata
terlibat dalam jejaringan
mafia korupsi.
Pejabat yang soksibuk
dengan urusan korupsi,
sementara dirinya dan
keluarganya terkait
jaringan korupsi, hanya
akan ditertawakan
bawahan dan rakyat.
Dengan lantang Susno
kemudian
membersihkan aparat
penegak hukum di Jabar
saat itu. Dia tak
tanggung-tanggung
menyeret pejabat.
Risiko apa pun sudah dia
pikirkan, karena yang
dia bela adalah
kebenaran, bukan
sekadar mencari
sensasi dan citra politik.
Bukti keseriusan Susno
saat menjabat Kapolda
Jabar seakan
menggebrak kembali
saat ini. Suara lantang
Susno selalu menghiasi
media cetak dan
elektronik. Kalau saat
konflik Cecak vs Buaya
saat itu semua
menentang Susno,
tetapi saat ini, karena
keterbukaan dan
keberanian Susno,
semua mendukung dia
untuk membongkar
jaringan mafia.
Buku semacam ini
bukan sekadar
pembelaan, tetapi
testimoni Susno untuk
membongkar mafia
dalam menegakkan
kebenaran. Rakyat
selalu mendukung
kebenaran. Karena itu
apa pun yang dilakukan
Susno kalau memang
untuk membela
kebenaran, pastilah
akan mendapatkan
dukungan kuat dari
rakyat. Susno jangan
sampai tergoda oleh
segala iming-iming
kekuasaan dan tetap
menjalankan misi
profetiknya dalam
membongkar jaringan
kejahatan yang
dijalankan mafia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar