Cari Blog Ini

Selasa, 21 Desember 2010

Kista

Sebagian besar kaum
perempuan di negeri
ini, boleh jadi, belum
memahami
sepenuhnya fungsi dari
indung telur (ovarium).
Padahal, ovarium
merupakan salah satu
"properti" penting bagi
kaum perempuan yang
wajib dijaga dan
dipelihara sebaik-
baiknya.
Setiap wanita memiliki
dua indung telur di
sebelah kanan dan kiri.
Ukurannya sebesar biji
kenari. Ovarium
berfungsi
menghasilkan ovum
alias sel telur, yang
diproduksi setiap bulan
oleh wanita, mulai dari
masa pubertas hingga
menopouse.
Setiap gangguan pada
ovarium dapat
menyebabkan
terhambatnya
pertumbuhan,
perkembangan, dan
kematangan sel telur.
Beberapa gangguan
yang kerap
mengganggu ovarium
adalah penyakit kista
ovarium, sindrom
ovarium polikistik, dan
kanker ovarium. Tapi,
dari semua gangguan
tadi, penyakit kista
ovarium paling sering
menyerang indung
telur wanita.
Pun begitu, penyakit
kista tidak bersifat
ganas. Sebab, kista
ovarium merupakan
tumor jinak, bukan
kanker yang
berbahaya. Namun,
menurut Mulyadi
Tedjaprana, Direktur
Klinik Medizone, Jakarta,
wanita yang memiliki
kista perlu
memerhatikan
pertumbuhannya. Kista
dapat membesar dan
menyebar ke organ
sekitar indung telur
tanpa disadari
penderitanya. "Kista
yang menjadi ganas
dapat membesar
sendiri tanpa keluhan
apa pun dari
penderitanya," ujar
Mulyadi.
Kekurangan hormon
Perempuan yang
terdeteksi mempunyai
kista pada indung
telurnya biasanya
menghasilkan hormon
hipofisis dalam jumlah
yang tidak tepat.
Kekurangan hormon ini
menurunkan fungsi
normal indung telur.
Ketika kondisi indung
telur tak berfungsi
normal, bisa timbul
penyimpangan
pertumbuhan berupa
kantong yang tumbuh
di bagian dalam alat
vital wanita.
Kista merupakan
benjolan menyerupai
kantong berisi cairan,
udara, atau nanah yang
ada di indung telur.
"Ukurannya 1-5
sentimeter, tergantung
jenisnya," ujar Martin
Walean, dokter
kandungan RS Permata
Bunda.
Penyakit kista ovarium
terdiri dari empat
macam: kista
fungsional, dermoid,
kista cokelat
(endometriosis), dan
kista kelenjar
(cystadenoma). Sampai
kini masih belum
diketahui persis
bagaimana terjadinya
kista. Biasanya, kista
tumbuh sangat pelan
dan sering terjadi
keganasan ketika
wanita berumur lebih
dari 45 tahun.
Dari keempat kista ini,
yang paling sering
mengecil sendiri seiring
dengan membaiknya
keseimbangan
hormonal adalah kista
fungsional. Kista jenis
ini timbul tanpa gejala.
"Kista fungsional bisa
mengecil dalam satu
sampai tiga bulan dan
sangat jarang
menyerang kedua
indung telur," tutur
Mulyadi.
Lain halnya dengan
kista dermoid yang
dapat terjadi pada
kedua indung telur.
Kista ini muncul karena
jaringan dalam telur
yang tidak dibuahi
berubah wujud
menjadi seperti
rambut, tulang, atau
lemak. Jenis kista
dermoid dapat
menimbulkan rasa sakit
apabila terpuntir atau
pecah.
Kista cokelat terjadi
karena lapisan dalam
rahim yang biasanya
terlepas sewaktu haid
melekat pada dinding
luar indung telur.
Akibatnya, akan terjadi
penumpukan darah
haid secara terus-
menerus. Inilah yang
menimbulkan kista
cokelat. "Kista ini
menimbulkan rasa sakit
saat haid atau
berhubungan seks,"
papar Mulyadi.
Adapun kista denoma
berasal dari
pembungkus indung
telur yang tumbuh
menjadi kista. Kista ini
dapat menyerang
indung telur kanan dan
kiri, serta
menyebabkan
inkontinensia. "Kista ini
mudah menjadi ganas
pada usia di atas 45
tahun atau kurang dari
20 tahun," ujar
Mulyadi.
Bisa tumbuh di organ
tubuh lain
Penyakit kista tidak
hanya tumbuh di
ovarium atau indung
telur wanita, tetapi juga
dapat tumbuh di paru-
paru, usus, dan bahkan
di otak. Kista juga dapat
tumbuh di vagina dan
di daerah vulva (bagian
luar alat kelamin
wanita). Kista yang
tumbuh di daerah
vagina, antara lain
inklusi, duktus gartner,
endometriosis, dan
adenosis. Adapun kista
yang tumbuh di daerah
vulva, antara lain pada
kelenjar bartolini,
kelenjar sebasea, serta
inklusi epidermal.
Berbeda dengan kista
yang ada di organ
tubuh lainnya, kista di
ovarium atau indung
telur bisa hilang dengan
sendirinya.
Berdasarkan tingkat
keganasannya, kista
terbagi dua, yaitu non-
neoplastik dan
neoplastik.
Kista non-neoplastik
sifatnya jinak dan
biasanya akan
mengempis sendiri
setelah 2-3 bulan.
Sementara kista
neoplastik umumnya
harus dioperasi, tetapi
tergantung dari ukuran
dan sifatnya.
Kista ovarium dapat
mengganggu proses
reproduksi untuk
terjadinya kehamilan.
Apabila terjadi
kehamilan, tumor ini
juga dapat
mengganggu
kehamilan, misalnya
keguguran atau
menghalangi bayi
untuk lahir normal.
Sejak zaman
penjajahan
Rekam jejak atau
historikal kaum
perempuan di
Indonesia yang pernah
menderita gangguan
kista telah tercatat sejak
zaman penjajahan
Belanda. Berdasarkan
catatan Eerland dan
Vos tahun 1935,
frekuensi penderita
kista ovarium jenis
dermoid mencapai
sebesar 3,8% dari 451
tumor ovarium yang
diperiksa di
Nederlands-Indisch
Kanker Instituut di
Bandung, Jawa Barat.
"Salah satunya kasus
pernah terjadi pada
gadis umur 13 tahun,"
ungkap Mulyadi,
mengutip catatan
tersebut.
Martin Walean, dokter
kandungan Rumah
Sakit Permata Bunda,
Jakarta, menjelaskan,
kini kecenderungan
perempuan di
Indonesia yang
mengidap kista
semakin bertambah.
"Ini karena mereka
jarang memeriksakan
atau sekadar
mengontrol dirinya ke
dokter ahli kandungan,"
katanya.
Padahal, kendati
penyakit kista termasuk
penyakit jinak, penyakit
ini memiliki potensi
untuk menjadi penyakit
ganas. Dan, apabila
sudah menjadi seperti
itu, harus ditangani
secara serius. Sekalipun
belum ganas, kista jika
terpelintir juga akan
mengakibatkan rasa
sakit yang sangat perih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar