Cari Blog Ini

Senin, 22 November 2010

Budidaya Lele

Pekarangan rumah
luas dan Anda suka
budidaya ikan? Ada
baiknya Anda melirik
budidaya lele ini.
Budidaya lele ini
ternyata tak melulu
'jorok' karena sudah
bisa dikembangkan
sistem budidaya yang
lebih murah, bersih dan
menjanjikan dengan
suplemen organik
sehingga bisa
maksimal hasilnya.
Bisnis budidaya ikan
lele ini pun tampaknya
akan selalu
menguntungkan. Hal ini
karena semakin
meningkatnya
kesadaran
masyarakat akan ikan
sebagai sumber
protein yang tinggi
dengan harga yang
terjangkau. Ikan
menjadi alternatif
mengingat harga
daging yang makin hari
makin mahal.
Ikan lele sendiri
memiliki nilai gizi yang
mumpuni disamping
dagingnya yang gurih.
Lele mengandung
protein yang tinggi dan
zat penguat tulang
(kalsium) yang baik
untuk makanan anak
balita. Selain itu lele
juga mengandung
mineral lain yang
penting pula untuk
kesehatan tubuh.
Dengan fakta-fakta
itu, maka pada
akhirnya ikan lele
dapat dijadikan
peluang usaha yang
menarik. Mengingat
selama ini budidaya
ikan lele selalu
terkesan 'jorok', kini
budidaya ikan air
tawar tersebut sudah
berkembang menjadi
lebih murah, bersih,
dan menjanjikan.
"Sekarang untuk
budidaya ikan lele, kita
sudah ada suplemen
organik yang dapat
membantu budidaya
lele lebih maksimal.
Karena suplemen
organik ini memiliki
fungsi sebagai penjaga
kualitas air,
menignkatkan
percepatan
pembesaran bibit lele
jika dicampur dengan
pakannya, dan
mengurangi tingkat
mortalitas dari bibit
lele," jelas Deden A.S,
sebagai salah seorang
pembudidaya lele yang
ditemui
detikFinance, Minggu
(21/11/2010).
Deden, yang memulai
budidaya lele ini sejak
tahun 2006, diawali
hanya iseng-iseng di
pekarangan rumahnya
dengan membuat
kolam dari terpal
sebesar 3x3x1 meter
yang diisi air setinggi
7O cm. Dengan pola
budidaya intensif,
kolam tersebut dapat
menampung jumlah
tanam bibit ikan lele
sebanyak kurang lebih
1800-2000 yang
masing-masing bibit
tersebut berukuran
10-12 cm.
"Setelah membuat
kolam dan menaruh
bibit lele tadi,
kemudian memberi
pakan dan suplemen
organik dengan waktu
teratur, selama 45 hari
saya bisa memanen
lele tersebut dengan
jumlah berat sebesar
200 Kg - 250 Kg untuk
jumlah maksimalnya,"
ujar Deden.
Bagi anda yang
tertarik mencoba
membudidayakan ikan
lele ini, Deden memberi
asumsi perhitungan
yang sederhana.
Dimulai dengan
membuat kolam dari
terpal dengan ukuran
3x3x1 meter yang
tentunya memerlukan
biaya yang tidak
begitu mahal
ketimbang membuat
kolam dari semen atau
kolam gali.
"Masalah perhitungan
harga pembuatan
kolam dari terpal,
tentu semua orang
akan tahu berapa
biaya yang dibutuhkan.
Karena terpal sendiri
permeternya murah,"
jelas Deden.
Kemudian, Deden
memberikan asumsi
biaya pembelian bibit
lele dengan harga Rp
300 per ekor. Jika
untuk kolam 3x3x1
meter dapat
menampung bibit
kurang lebih 2000 ekor,
maka kita hanya perlu
mengeluarkan kocek
sebesar Rp 600.000
(Rp 300 x 2000 ekor).
Mengingat lama
pembesaran
membutuhkan waktu
selama 45 hari, maka
kebutuhan pakan yang
dibutuhkan adalah
sejumlah 90 Kg (2 Kg
perhari). Nantinya,
Biaya yang dibutuhkan
adalah sebesar Rp
660.000, dengan harga
pakannya perkarung
adalah Rp 220.000
seberat 30 Kg.
Adapun, pembelian
kebutuhan suplemen
organik adalah Rp
180.000 untuk 4 botol
selama 45 hari
pembesaran bibit.
Empat botol tersebut
akan difungsikan
untuk pemaksimalan
kualitas air dan bibit
lele.
Pada akhirnya, total
biaya yang dibutuhkan
adalah kurang lebih Rp
1440000.
Berikut adalah
ringkasan dari modal
yang dibutuhkan
perkolamnya adalah:
Harga Bibit
Lele : Rp 300 x
2000 ekor = Rp
600.000
Harga Pakan :
Rp 220.000 x 3
karung = Rp
660.000
Harga
Suplemen
Organik: Rp
45000 x 4
botol = Rp
180.000
Total Biaya
Produksi: Rp
1.440.000
Melalui asumsi modal
tersebut dari Deden,
maka keuntungan
yang bisa didapat dari
satu buah kolam
dengan target panen
2.000 bibit adalah 200
Kg - 250 Kg.
Deden menjelaskan,
bahwa harga eceran
yang bisa diraih adalah
senilai Rp 15.000
perkilonya. Sedangkan
untuk harga yang
dijual ke pasar, dapat
diraih sebesar Rp
12000 perkilonya.
Sehingga, lanjut deden,
jika diambil dari asumsi
harga terendahnya,
maka keuntungan
yang bisa diambil
adalah Rp 960.000
untuk satu kolam.
Jumlah tersebut
diambil dari penjualan
lele sebanyak 200 Kg x
Rp 12.000 yang
berjumlah Rp 2400.000
dikurangi biaya
produksi yang
berjumlah Rp
1.440.000.
"Jika panen yang kita
hasilkan maksimal,
kita dapat mencapai
berat sejumlah 250 Kg.
Keuntungan yang bisa
diambil dari selisih
total penjualan dan
biaya produksi adalah
sebesar Rp 1.560.000
perkolamnya," tegas
Deden.
Dari penjualan lele tadi
saja, jelas Deden, itu
sudah merupakan
peluang usaha yang
menarik di samping
aktivitas kesibukan
sehari-hari. Karena
biaya yang dibutuhkan
tidak membutuhkan
nilai investasi yang
tinggi.
"Dari sisi waktu tidak
begitu lama, malah
simple dan sederhana.
Yang penting disiplin
saja dalam jadwal
pemberian pakan dan
suplemen organiknya.''
kata Deden.
Berbicara mengenai
peluang yang lebih luas
lagi. Hasil dari lele
tersebut, dapat
dijadikan berbagai
macam peluang usaha
lainnya yang lebih
menarik tentunya.
Selain yang sudah kita
ketahui, lele dapat
dijadikan menu
makanan pecel lele.
Namun di sisi lain, hasil
dari olahan daging ikan
lele dapat dijadikan
berbagai macam hasil.
Misalnya, daging lele
dapat dijadikan nugget
lele, abon lele, lele
asap, bakso lele, dan
bahkan dapat dijadikan
filet lele. Mengingat
kebutuhan filet lele
untuk ekspor sangat
tinggi.
"Atau mungkin kita
dapat
mengembangkan dari
hasil ikan lele tersebut
menjadi olahan-olahan
penganan menurut ide
dan kreativitas kita
yang memiliki nilai jual
tinggi," ucap Deden.
Untuk informasi lebih
lanjut mengenai
budidaya intensif ikan
lele, anda dapat
menghubungi
Departemen
Perikanan, atau para
pelaku usaha ikan lele
seperti Deden A.S ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar