Cari Blog Ini

Selasa, 30 November 2010

Merapi, Bromo & Lapindo Saling Berkaitan

Siapa
kira, ternyata letusan
Merapi, letusan
Bromo, dan luapan
lumpur Lapindo
memiliki keterkaitan
satu sama lain.
Berdasarkan dugaan
dari Badan
Penanggulangan
Luapan Lumpur
Sidoarjo (BPLS),
ternyata ada
hubungannya antara
aktivitas vulkanik
pegunungan tersebut
dengan luapan lumpur
Lapindo.
Deputi Operasional
BPLS Sofyan Hadi
mengatakan, jika
besar kemungkinan
jika luapan lumpur
Lapindo itu
berhubungan dengan
aktivitas vulkanik
gunung di Indonesia.
Sebagai contoh
misalnya, pada 18
November lalu, BPLS
menemukan adanya
semburan baru di
pusat semburan. Jika
awalnya hanya ada
satu semburan di
pusat semburan,
namun pada 18
November sore, BPLS
menemukan tiga
grup semburan baru.
Saat itu, Sofyan
menanyakan kepada
Badan Geologi,
apakah ada
peningkatan aktivitas
vulkanik di Bromo,
Welirang, Kelud dan
kompleks
pegunungan Ajurna?
“ Kenyataannya tak
lama kemudian
Bromo mengalami
erupsi, ” kata Sofyan
Hadi di Institut
Teknologi Sepuluh
Nopember (ITS)
Surabaya. Apalagi
jarak antara gunung
aktif dengan Lapindo
hanya berjarak 15
kilometer.
Bukti lain yang
mengindikasikan
adanya hubungan
antara Lapindo
dengan aktivitas
vulkanik adalah
ditemukannya gas
helium di pusat
semburan. Pada
Februari lalu, Sofyan
Hadi sempat ke
pusat semburan
untuk sampling gas.
Ternyata setelah
diujikan di Itali,
terdapat kandungan
gas helium dalam
jumlah yang cukup
banyak.
“Ini hanya bisa terjadi
jika berhubungan
dengan sistem
magma bumi, ” kata
Sofyan.
Bukti lain yang
disodorkan oleh
Sofyan, adalah soal
jumlah material yang
dikeluarkan oleh
semburan lumpur
Lapindo. Berdasarkan
perkiraan BPLS,
hingga empat tahun
ini luapan lumpur
Lapindo telah
mengeluarkan 144
juta meter kubik
material. Jumlah ini
hampir setara
dengan material
erupsi hebat Merapi
yang menjadi 100
juta meter kubik.
Pada saat
puncaknya, luapan
lumpur Lapindo ini
mengeluarkan 100
ribu meter kubik
material. Kata
Sofyan, 100 ribu
meter kubik per hari
setara dengan sejuta
barel. “Nah sejuta
barel sama dengan
jumlah minyak yang
diproduksi Indonesia
dari 2300 sumur, ”
ujarnya.
Dugaan jika aktivitas
luapan lumpur
Lapindo berkaitan
dengan aktivitas
tektonik ini, kata
Sofyan, bisa dipelajari
peta Belanda
keluaran tahun 1938
yang menyebutkan
situs mud volcano
sebelah selatan
Bandara Juanda
Surabaya. Atau
bahkan dalam kitab-
kitab kuno seperti
Pararaton, Negara
Kertagama, di situ
disebutkan tentang
peta mud volcano.
“Dari kitab-kitab itu
terbukti jika kita
mempunyai sejarah
mud volcano yang
cukup panjang, ” kata
Sofyan.
Oleh sebab itu, yang
paling penting adalah
antisipasi untuk
menghadapi bencana
tersebut. BPLS sendiri
menyatakan sudah
mempunyai roadmap
untuk 30 tahun
mengatasi bencana
luapan lumpur
Lapindo. Umur 30
tahun itu
berdasarkan
perhitungan pakar
geologi jika luapan
lumpur Lapindo akan
berhenti setelah
masa itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar