Cari Blog Ini

Sabtu, 20 November 2010

Tokoh Islam yang Berperan Besar dalam Matematika

Rekayasa
mekanika melambungkan
nama Banu Musa di
khazanah sains Islam.
Melalui kemampuannya,
Banu Musa menciptakan
berbagai peralatan mesin
yang terbilang pada
masanya. Namun,
sebenarnya bukan itu saja
prestasinya. Banu Musa
menoreh kan prestasi
gemilang di ranah
matematika.
Kepakaran Banu Musa
dalam matematika bahkan
layak disejajarkan dengan
sejumlah tokoh besar
lainnya, seperti al-
Khawarizmi (780-846
Masehi), al-Kindi
(801-873), atau Umar
Khayam (1048-1131).
Matematika dijadikan
pijakan bagi Banu Musa
untuk menopang
kemampuanya di bidang
teknik.
Perlu diketahui, Banu
Musa, atau keluarga Mu
sa, terdiri dari tiga
bersaudara: Jafar Mu
hammad bin Musa bin
Shakir, Ahmad bin Musa
bin Shakir, dan al-Hasan
bin Musa bin Shakir.
Ketiganya merupakan
putra dari seorang
cendekiawan terkemuka
abad ke-8, yakni Musa bin
Shakir.
Banu Musa ikut andil
dalam mendorong
kemajuan ilmu
pengetahuan di dunia
Islam. Bahkan, Banu Musa
termasuk saintis Muslim
pertama yang
mengembangkan bidang
ilmu hitung di dunia Islam
melalui transfer
pengetahuan dari
peradaban Yunani. Lalu,
Banu Musa membangun
konsep dan teori baru,
khususnya pada lingkup
geometri. Dari tiga
saudara tadi, adalah si
sulung Jafar Muhammad
yang berada di baris
depan dalam kajian
geometri. Selanjutnya
diikuti oleh al-Hasan.
Sementara itu, Ahmad bin
Musa membawa konsep
matematika kepada aspek
mekanika. Mereka terus
bekerja bersama-sama
hingga mencapai hasil
yang sempurna. Banu
Musa sangat tertarik
dengan manuskrip ilmiah
dari Yunani. Salah satunya
berjudul Conics.
Keseluruhan karya
Appollonius ini terdiri dari
delapan jilid. Diungkapkan
Jere L Bacharach dalam
Medieval Islamic
Civilization, topik utama
dari naskah tersebut
membahas tentang
geometri.
Banu Musa meminta
bantuan dua sarjana
terkemuka, yaitu Hilal bin
Abi Halal al-Himsi dan
Thabit bin Qurra, untuk
menerjemahkan karya itu
ke dalam bahasa Arab.
Dalam buku MacTutor
History of Mathematics,
sejarawan sains John
O ’Connor dan Edmund F
Robertson menyebut
Banu Musa sebagai salah
satu peletak dasar bidang
geometri.
Banu Musa berhasil
menghubungkan konsep
geometri dari matematika
Yunani ke dalam khazanah
keilmuan Islam sepanjang
abad pertengah an. Di
kemudian hari, Banu Musa
menyusun risalah penting
tentang geometri, yakni
Kitab Marifat Masakhat al-
Ashkal. Kitab tersebut
sangat terkenal di Barat.
Menyusul
penerjemahannya ke
dalam bahasa Latin pada
abad ke-12 oleh Gerard of
Cremona dengan judul
Libertrium Fratum de
Geometria.
Menurut O’Connor dan
Robertson, terdapat
beberapa kesamaan
metodologi dan konsep
geometri dari Banu Musa
dengan yang diusung
Apollonius. Namun,
keduanya menegaskan
pula bahwa banyak pula
perbedaan yang muncul.
Sebab, Banu Musa
melakukan perbaikan dan
membangun
rumusrumus baru yang
terbukti sangat efektif.
Lebih jauh, Banu Musa
menyempurnakan
metode persamaan yang
dirintis Eudoxus dan
Archimedes.
Pakar matematika Muslim
itu menambahkan rumus
poligon dengan dua
bidang sama luas.
Sebelum diteruskan oleh
Banu Musa, metode ini
tidak banyak mendapat
perhatian dan nyaris
hilang dimakan zaman. Di
sisi lain, Banu Musa
membangun pola lebih
maju terkait penghitung
an luas serta volume yang
mampu dijabarkan lewat
angka-angka.
O’Connor dan Robertson
mengungkapkan,
penggunaan sistem angka
merupakan keunggulan
dari metode geo metri
awal warisan peradaban
Islam. Hal lain
diungkapkan oleh Shirali
Kadyrov melalui
tulisannya Muslim
Contributions to
Mathematics.
Menurut dia, Banu Musa
juga menje laskan
mengenai angka konstan
phi. Ini adalah besaran
dari hasil pembagian
diameter lingkaran. Banu
Musa mengatakan,
konsep ini pernah dipakai
Archimedes. Namun,
pada saat itu pemikiran
Archimedes dinilai masih
kurang sempurna. Sezgin,
seorang ahli matematika
Barat, menganggap bukti
temuan Banu Musa
merupakan fondasi kajian
geometri pada masa
berikutnya.
Hal serupa disampaikan
Roshidi Rashed dalam
History of a Great
Number. Di samping itu,
mereka menciptakan
pemecahan geometri
dasar untuk menghitung
luas volume. Laman
isesco.org menyatakan,
sumbangan Banu Musa
yang lain yakni ketika
menemukan metode dan
praktik geometri yang
ringkas serta mudah
diaplikasikan.
Dalam membentuk
lingkaran, misalnya, bisa
dikerjakan dengan
memakai besi siku atau
jangka. Masing-masing
ujung besi siku itu
diletakkan di titik berbeda.
Kemudian diambil sudut
tertentu. Ambil salah satu
ujung sebagai tumpuan
dan ujung lainnya diputar
melingkar. Maka dihasilkan
sebuah lingkaran
sempurna.
Berdasarkan pengamatan
Victor J Katz dan Annete
Imhausen pada The
Mathematics of Egypt,
Mesopotamia, China, India
and Islam, kajian geometri
mencapai tahap tertinggi
melalui pemikiran dan
karya Banu Musa. Inti
gagasan mencakup
sejumlah operasi
penghitungan kubus,
lingkaran, volume,
kerucut, dan sudut.
Selain Kitab Marifat,
Muhammad bin Musa
menulis beberapa karya
geometri yang penting.
Salah satunya
menguraikan tentang
ukuran ruang, pembagian
sudut, serta perhitungan
proporsional. Hal ini
terutama digunakan untuk
menghitung pembagian
tunggal antara dua nilai
tertentu. Sedangkan, al-
Hasan mengerjakan
penelitian untuk
menjabarkan sifat-sifat
geometris dari elips.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar