BERBAGAI jalan
ditempuh seseorang
untuk memperoleh
pasangan hidup. Apakah
akan menjadi pasangan
sampai akhir hayat,
atau hanya sementara
waktu saja, tergantung
tujuan sejak awal.
Untuk memperoleh
pasangan hidup yang
benar, lazim disebut
jodoh, ada tuntunannya.
Masyarakat memiliki
budaya, agama
memberi tuntunan.
Buku ini memberi
gambaran proses orang
Jawa dalam mencari
pasangan hidup.
Sri Suhanjati Sukri,
Guru Besar Sejarah
Peradaban Islam di IAIN
Walisongo Semarang,
aktivis masalah
perempuan, anak, dan
agama itu memaparkan
tentang katuranggan
dalam pemilihan jodoh.
Uraiannya mendasarkan
pada Kitab Majmu ’at
karya Kiai Saleh Darat
dan Serat Centhini yang
ditulis atas perintah
Pangeran Adipati Anom
dari Kerajaan Surakarta.
Buku ini juga
menjabarkan sisi lain
syariat Islam yang
mengatur tentang
pernikahan, yang
dimasyarakatkan lewat
kitab fikih. Pada
umumnya kitab fikih
membahas hal-hal yang
terkait dengan syariat
dan rukun pernikahan
bersumber pada ajaran
Islam dan ijtihad ulama.
Kiai Saleh Darat, ulama
yang berwawasan
budaya lokal Jawa
mengemas sedemikian
rupa, memasukkan
katuranggan dalam
mencari jodoh.
Katuranggan dikenal
sebagai tradisi Jawa
yang digunakan untuk
mengetahui sifat dan
kemampuan seksual
seorang perempuan
melalui firasat
tubuhnya.
Dalam Serat Centhini,
pengertian katuranggan
merupakan penjabaran
dari kriteria pemilihan
jodoh berdasarkan bibit,
yaitu kondisi seorang
wanita termasuk
kecantikannya (becik
warnane- bagus
warnanya), kepandaian
(kepinteran) dan firasat
roman mukanya (candra
warna pasemone).
Dari pengertian ini
disimpulkan
katuranggan digunakan
untuk mengetahui
keadaan perempuan
yang akan dinikahi,
bukan untuk iseng atau
pelecehan.
Meskipun tidak sama,
ternyata pembahasan
mengenai perlunya
mengetahui kondisi
calon istri melalui
anggota badan
disinggung pula dalam
Ihya Ulum ad Din karya
Imam Al Ghazali.
Sementara Serat
Centhini memuat lebih
rinci tetang sifat,
bentuk tubuh dan
kemampuan
seksualitas perempuan.
Katuranggan sampai
sekarang masih
digunakan oleh sebagian
masyarakat Jawa
sebagai hal yang
penting dalam memilih
jodoh. Pemilihan jodoh
yang tepat akan
berpengaruh pada
ketenangan dan
kebahagiaan keluarga.
Sedangkan
keharmonisan keluarga
akan berpengaruh pada
terciptanya masyarakat
yang tenang, damai dan
sejahtera.
Keluarga merupakan
bentuk masyarakat
terkecil. Keluarga yang
tidak harmonis
merupakan pangkal
kerusakan dalam
masyarakat.
Ketidakharmonisan
keluarga, salah satunya
berasal dari pemilihan
jodoh yang tidak tepat.
Kepentingan
Pernikahan
Buku ini dibagi
menjadi 10 bagian,
untuk mempermudah
pembaca konsentrasi
pada masalah tertentu.
Diawali tentang
pentingnya pernikahan
yang merupakan
perwujudan syariat
Islam yang mengatur
fitrah manusia sebagai
makhluk sosial, tidak
bisa hidup sendiri. (Qs al
Baqarah: 35 tentang
penciptaan Adam dan
Hawa). Setelah
terlaksana syarat dan
rukun pernikahan,
diuraikan kewajiban
sebagai seorang suami
dan istri.
Bagian berikutnya
pembaca dapat
mendalami tentang
kriteria ideal istri,
bagaimana melihat
calon istri atau calon
suami, kriteria yang
dianjurkan dan dilarang
dalam memilih
pasangan, sampai pada
perempuan berhak
memilih jodoh.
Perihal katuranggan
(hal 59) dalam kitab
karya Kiai Saleh Darat,
(ditulis 1899), pada
bagian akhir diketahui
bahwa Majmu ’at
merupakan kumpulan
syariat yang sengaja
ditulis untuk orang
awam.
Dimaksud dengan
awam adalah orang
yang tidak tahu tentang
bahasa Arab. Kedua
sebagai bahasa simbol
yang digunakan oleh
orang Jawa untuk
menunjukkan sifat
rendah hati.
Kiai Saleh Darat
menyebut dirinya
sebagai orang yang
tidak tahu bahasa Arab,
sedangkan
kenyataannya Saleh
Darat menguasai
Bahasa Arab,
menerjemahkan dan
meringkas buku
berbahasa Arab ke
dalam bahasa Jawa
termasuk Majmu ’at dan
Matan al Hikam.
Ketiga, awam
dimaksud sebagai orang
yang pengetahuannya
masih rendah. Pada
saat buku itu ditulis,
bisa dikatakan
pengetahuan mayoritas
umat Islam masih
terbatas, baik dalam hal
agama atau
pengetahuan umum.
Salah satu contoh
katurangan yang
disebut dalam buku ini
(hal 30) adalah istilah
guntur madu. Anggota
tubuh orang yang
disebut dengan guntur
madu adalah wajah
lebar, sorot mata galak,
dahi dan mulutnya juga
lebar, matanya kecil,
perawakannya tinggi,
badannya kerempeng,
kulitnya kuning langsat
dan rambutnya lebat.
Perempuan seperti itu
wataknya bagus, dan
dalam masalah seksual
bisa mengimbangi
pasangannya.
=========================================
Judul: Orang Jawa
Mencari Jodoh (dari Kitab
Fikih Hingga Serat
Centhini)
Penulis: Prof Dr Sri
Suhanjati Sukri
Penerbit: Nuansa,
Bandung
Cetakan: Pertama,
Agustus, 2010
Tebal: 119 halaman
Tidak ada komentar:
Posting Komentar