Cari Blog Ini

Minggu, 26 Desember 2010

"Obor yang Tak Pernah Padam" Soekarno, Sinonim Nasionalisme

ADA banyak cara untuk
merenung pada saat
negeri ini memperingati
kemerdekaan. Namun
satu hal yang tidak bisa
dilupakan adalah
mengingat sosok
Soekarno atau Bung
Karno (BK). Mengapa
demikian? Keith Loveard
dalam tulisan
panjangnya di Asiaweek
mengatakan, di seluruh
wilayah Indonesia yang
membentang 5.000 km,
satu nama sinonim
dengan nasionalisme
Indonesia adalah
Soekarno. Ia adalah
pendiri negara dan
arsitek kemerdekaan
negeri ini. “Bagi banyak
orang, kenangan atas
presiden pertama itu
ada kaitannya dengan
impian tentang
bagaimana Indonesia
harus dibangun, ” tutur
Loveard (halaman 1).
Soekarno jelas manusia
biasa yang tak luput
dari cacat. Tetapi jutaan
warga negeri ini tetap
terkagum-kagum pada
pemimpin yang punya
banyak kelebihan itu.
Dari soal harta,
misalnya. Pada saat kita
bisa melihat harta para
pejabat negara
sekarang yang
bermiliar-miliar —yang
entah dari mana
sumbernya — harta
Soekarno sangatlah
kecil sekali.
Dalam bukunya,
Sukarno, An
Autobigraphy as Told to
Cindy Adams (1966),
Bung Karno antara lain
mengatakan (halaman
157), “Dan adakah
seorang Kepala Negara
lain yang melarat
seperti aku dan sering
meminjam-minjam dari
ajudannya? Gajiku 200
dolar AS sebulan dan
tidak cukup untuk
memenuhi kebutuhan
keluargaku. Dari segi
keuangan tidak banyak
kemajuanku semenjak
dari Bandung (pada
dasawarsa 1920-an).”
Buku yang merupakan
kumpulan 25 tulisan
tentang Soekarno ini
menarik dan enak
diikuti, Ada tulisan dari
majalah Asiaweek, ada
nukilan Bung Karno
menggunakan ramalan
Jayabaya, kunjungan
mengesankan BK di
Amerika Serikat,
pengakuan BK sebagai
pecinta wanita, BK
sebagai kutu buku, BK
sebagai penerima 26
gelar doktor honoris
causa, dan ada pula
surat terbuka Ny Dewi
Soekarno kepada
Jenderal Soeharto.
Dalam sebuah cerita,
Presiden Soekarno
pernah didatangi oleh
seorang pelukis yang
jadi sahabatnya. Sang
pelukis itu sangat
memerlukan uang untuk
membeli obat bagi
istrinya yang sakit. Ia
pun datang pada Bung
Karno untuk menjual
lukisan itu. Tetapi
Kepala Negara itu tidak
punya uang. Jadi ia
menawarkan pulpen
yang ada tanda
tangannya untuk dijual.
Sang pelukis tidak mau
karena butuh uang dan
pamit pulang. Bung
Karno mencegahnya dan
kembali masuk ke
kediamannya. Dia pun
berkata, “Begini Bung,
kebetulan istriku ada
sedikit uang. Saya
meminjamnya, tapi
masih kurang. Jadi nanti
kalau saya punya uang,
kekurangannya saya
bayar.”
Mengharukan memang.
Bagaimana seorang
kepala negara tidak
punya uang hingga
seperti itu? Bagaimana
Bung Karno sering
dibelikan baju oleh para
diplomatnya kalau ke
luar negeri karena
melihat baju
presidennya yang
sangat sederhana?
Soekarno memang
bukan tipe pemimpin
haus harta.
Kesukaannya pada
karya seni sangat
terkenal. Ini terlihat dari
Majalah terkemuka
Amerika National
Geographic edisi
Indonesia, bulan
Agustus 2008 yang
menunjukkan foto Bung
Karno di ruang kerjanya
yang penuh lukisan. Foto
yang dipakai sebagai
sampul ini adalah foto
1956.
Bung Karno juga
seorang kutu buku yang
luar biasa.
Penguasaannya atas
sejumlah bahasa asing
plus kemampuan
pidatonya yang
istimewa menjadikan
dia menjadi orator
tanpa tanding. Ia
mampu
mempersatukan dari
begitu banyak latar
belakang etnik, budaya
dan agama dengan
lidahnya, tanpa
menumpahkan setetes
darah pun.
Kemampuan Soekarno
itu tentu diperoleh
melalui proses, tetapi
jelas buku-buku adalah
bagian penting dari
proses itu. Saat masih
remaja, Soekarno sudah
sering tenggelam
menikmati beragam
buku di perpustakaan
ayahnya. Kemudian,
seperti ditulis Howard
Palfrey Jones dalam
bukunya, Indonesia: The
Possible Dreams, tahun-
tahun dalam penjara
dan pengasingan adalah
tahun-tahun pendidikan.
Ia membaca dan
membaca —semuanya
yang dapat
diperolehnya. Tetapi ia
paling menginginkan
buku-buku tentang
sosialisme dan revolusi;
buku-buku yang akan
mengajarinya
bagaimana
mengorganisasi
(rakyat) melawan
Belanda, buku-buku
yang akan memberinya
pandangan tentang
revolusi.
Bertemu Para Tokoh
Bertahun-tahun
kemudian, tulis mantan
Duta Besar AS di
Indonesia, itu Bung
Karno melukiskan
pengalamannya
membaca buku-buku di
penjara:
“ Aku bertemu di alam
pikiran dengan Tom
Paine. Aku bertemu dan
berbicara dalam alam
pikiran dengan para
pemimpin Revolusi
Prancis, aku bertemu
dengan Mirabeau; aku
bertemu dengan
Moreau; aku bertemu
Danton; aku bertemu
dengan para pemimpin
revolusi wanita di Paris.
Dan dalam alam pikiran
aku bertemu dengan
para pemimpin Jerman.
Aku bertemu Herr
Alterfritz, Frederic
Agung. Aku bertemu
Wilhelm Lieplat dan, ya,
kemudian aku bertemu
juga dengan Marx, Karl
Marx. Aku bertemu
dengan Adolf Berstein.
Aku bertemu dengan
Friedrich
Engels. ” (halaman 187).
Soekarno juga
mengatakan: “Aku
bertemu dengan
Mazzini, dengan
Garibaldi, dengan
Plekanov, dengan
Trotsky, dengan Lenin,
dengan Gandhi, dengan
Mustafa Kemal Ataturk,
dengan Ho Chi
Minh,dengan Sun Yat
Sen, dengan Saygo
Takamori. Aku bertemu
Nehru, dengan
Mohammad Ali Jinnah,
dengan Jose Rizal
Mercado, yang ditembak
mati oleh Spanyol pada
tahun 1903. Aku
bertemu Thomas
Jefferson dan Abraham
Lincoln. ”
“Begitulah setelah
bertemu —setelah
berbicara dengan semua
pemimpin besar itu —
aku menjadi yakin
bahwa manusia itu satu
(sama), ” kata Bung
Karno.
Howard Jones pun
mengaku, ia sering
melongo menyaksikan
otak gajah Bung Karno
karena dalam pidatonya
pemimpin Indonesia itu
mampu mengutip
panjang kata-kata
Jefferson, Lincoln atau
pun Karl Marx persis
dalam bahasa aslinya.
Dua bab akhir buku juga
menarik, yakni surat
terbuka Nyonya Dewi
Soekarno kepada
Jenderal Soeharto, dan
tulisan Pramoedya
Ananta Toer di Majalah
Time edisi 23-30
Agustua 2000 yang
berisi 100 tokoh
terkemuka abad ke-20.
Salah satunya adalah
Soekarno.
Sebuah buku yang
pantas dikoleksi.
=============================
Judul: Soekarno Obor
yang Tak Pernah Padam
Penulis:Djoko Pitono
Penerbit : Selasar,
Surabaya
Cetakan: Kedua (Revisi),
2010
Tebal: xii + 238 halaman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar